Membandingkan diri

Perihal membandingkan, kita sering lupa kalau sebetul-betul nya perbandingan adalah dengan diri kita yang dulu. Dan sebaik-baik aspek yang dibandingkan adalah semakin dekat atau semakin jauh dari Ridho Allah. Pemikiran materialisme membuat kita mengukur diri dengan apa yang bisa kita beli dengan uang. Uang adalah segalanya, belajar untuk uang, kuliah untuk uang, waktu untuk uang: kira-kira begitulah pemikiran yang sering terlintas di fikiran. Kadang menjadi menggiurkan. Tidak terasa ternyata kita juga sering berfikiran seperti ini.

Ditengah-tengah masyarakat yang semakin materialis, rasanya menjadi sulit kalau tidak kuat-kuat menutup telinga, menahan rasa ingin untuk punya kendaraan sebagus tetangga, rasanya keimanan lah kekuatan yang bisa mengendalikan kita yang lemah ini. Namun apa kabar dengan keimanan yang rapuh ini. Yang mudah terperosok dalam dosa, noda-noda yang menghiasai lembar harian kita. Duh hidup di tengah masyarakat yang semakin materialis benar-benar sulit kalau tidak menjadi materialis dan mampu mewujudkannya.

Bagi kita yang tidak mampu mewujudkannya, terserang rasa iri, dengki dan kompilasi penyakit hati terhadap mereka yang mampu. Padahal seharusnya tidak. Ah dunia memang bukan seharusnya dan tidak seharusnya dikejar. Fana dimana-mana. Jadi mari kita ukur diri kita sekarang dengan diri kita yang lalu. Nikmat syukur itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s