Politik yang terlalu nazis dan kita yang skeptis

Hari ini sedang browsing, dan membawa saya ke artikel perang rokok indonesia amerika di kompas, kemudian WTO dan mahasiswa UI yang di suruh kuliah di timur tengah oleh pimpinan ibukota karena upload video yang berisi larangan untuk memilihnya di tahun depan.

Saya jadi tertarik lagi dengan artikel-artikel gerakan mahasiswa yang sudah tidak menarik minat saya lagi satu tahun kebelakang. Tentang penting gak sih mahasiswa berpolitik? Ketika ternyata banyak kebijakan-kebijakan yang tidak sesuai dengan kepentingan rakyat kita biarkan saja. Rasanya tidak tenang dalam hati kalau diam saja, pun kalau berkicau sendirian di media sosial mengkritik habis-habisan suatu kebijakan, iya gitu kita sedang memperjuangkan? Namun cukup untuk melegakan hati untuk menepis bahwa kita mahasiswa diam saja.

Ketika kebanyakan kita lebih mudah mengikuti arus hedonisme (mencari kesenangan) dibanding dengan ikut kajian atau sekedar rapat di sela-sela kuliah dan setumpuk tugas. Melihat anak bem yang berjuang sendirian, karena katanya anak bem dikuasai salah satu ekstra kampus, biarkan saja golongannya yang memperjuangkan. Kita beda golongan. Kita terjebak dengan pengkotak-kotakan mahasiswa

Tapi bukan sikap itu yang ingin saya bahas, adalah sikap kita dengan kata “politik”. Kenapa kita menjadi negatif dengan kata itu, padahal sama saja seperti kata “internet” bisa bermakna negatif dan positif tergantung tujuannya. Apa kita menganggap bahwa yang menggunakan internet itu negatif? Kan tidak. Memang betul berpolitik adalah pilihan, pantas gitu seorang terpelajar menjelek-jelekan pilihan orang?

Dan ketika saat-saat peralihan menuju menjual diri dengan gelar di job fair, masih kah semangat memperjuangkan rakyat masih ada seperti ketika menjadi mahasiswa baru beberapa tahun silam? Pelajaran terpenting dari masa-masa mahasiswa adalah seberapa peduli kita dengan urusan yang menyangkut orang banyak. Jangan hilang, please. Enak sepertinya ketika semua orang melandaskan setiap keputusannya untuk kebaikan bersama. Gak ada tuh berlomba-lomba memperbagus rumah dan kendaraan ketika menyadari di sekitarnya masih ada yang sulit untuk melanjutkan pendidikan.

Dan ketika diberikan pilihan untuk menyelamatkan pelaku industri rokok dan kesehatan masyarakat kita gak salah milih lagi. Supaya gak grogi pas milih kudu banyak latihan, salah satunya latihannya di kampus. Saya tidak menjelekan buat mereka yang milih untuk tidak berpolitik, saya hanya mengingatkan bahwa sikap menjelekan pilihan orang itu jelek.

Dan seorang terpelajar harus bersikap adil, bahkan sejak dalam pemikiran.

Pramoedya Ananta Toer

Ditulis ketika semester 9,

Nagreg, 7 September 2016

Muldan Cahya R

Advertisements

2 thoughts on “Politik yang terlalu nazis dan kita yang skeptis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s