Bayar tilang via atm BNI/ BCA/ Mandiri/ dan bank lainnya selain BRI

Siang ini saya ditilang karena sim kadaluarsa sudah 6 bulan, kemudian saya meminta slip biru untuk surat tilangnya. penjelasan tentang slip biru dan slip merah baca disini. Kemudian saya dikasih surat biru dan dikasih token BRIVA untuk dibayar ke bank BRI.

Kalau saja hari ini bukan hari libur maka mudah saja tinggal tanyakan saja ke teller bank kemudian kita bayar nominalnya dan selesai. Tapi ini hari sabtu dan bank tutup, disisi lain saya butuh cepat-cepat karena stnk yang ditahan motor punya orang. Maka solusinya adalah dengan bayar tilang via atm. Namun yang membuat bingung adalah saya tidak punya atm BRI, karena menu BRIVA polri ada di atm BRI. Saya cari-cari di google dan susah menemukannya.

Setelah beberapa lama saya pergi lagi ke atm sekedar coba-coba sekali lagi untuk bayar tilang via atm bni. Caranya adalah sebagai berikut:

  1. Pastikan kita sudah memiliki token BRIVA dari polisi
  2. Masuk ke atm, pilih menu TRANSFER
  3. Masukan kode bank BRI 002
  4. Diikuti oleh token BRIVA jadi seperti ini 00287xxxxxxxxxxxxx
  5. Masukan nominal sesuai yang diminta polisi ( untuk kasus jumlah ini saya gambling karena polisi tidak memeberi tahu berapa jumlahnya, jadi saya isi 50000)
  6. Kemudian transfer. Print hasil transfer.
  7. Balik lagi ke polisi tempat kita nilang, atau ke Polsek satuan yg bertugas.

Semoga bermanfaat 🙂

Mengenal (lagi) Profesi Instruksional Designer (ID)

Mengenal (lagi) Profesi Instruksional Designer (ID)

Waktu awal kuliah dulu tuh kita benar-bener blank mengenai TP atau kita yang dari UPI Bandung lebih familiar dengan sebutan Tekpend. Seperti dalam artikel sebelum-sebelumnya ternyata masih banyak mahasiswa yang masih enggak tau kemana nanti akhir dari jalan yang kita sebut Teknologi Pendidikan. Karena permasalahan ini kita jadi engga serius-serius banget dengan kuliah, juga gak idealis banget dalam mengeluarkan ide (khusus buat penulis, jangan di generalisasi ya)

Yang paling kita inget dalam TP ini adalah dapat memudahkan orang buat belajar. Udah itu rasanya udah definisi paling singkat dan paling mudah dimengerti buat generasi seperti kita yang biasa dengan hal-hal yang mudah. Jadi dalam tulisan ini ingin berbagi sedkit saja mengenai pemahaman kita mengenai teknologi pendidikan, biar gak ngenes lagi ketika ditanya orang nanti kerjanya ngapain atau dimana. Biasanya kita paling kesel kalau sudah ditanya sedemikian nusuknya. Serba salah kalau mau jawab, serasa dunia yang tidak berpihak sama kita. Continue reading “Mengenal (lagi) Profesi Instruksional Designer (ID)”

Kenapa hati gak tenang?

Print

Fitrahnya tindakan manusia selalu menuju ke hal-hal yang menenangkan hati. Saya  pikir itu adalah cara Allah Swt untuk mengukur sesuatu yang kita kerjakan berada dalam nilai “kebenaran” atau tidak. Kebenaran selalu saja sejalan dengan ketenangan hati. Perihal menenangkan hati selalu ingat QS Ara’ad ayat dua lapan: Sesungguhnya hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.

Kata pepatah, di atas langit masih ada langit. Ini sering mengingatkan saya, agar tidak merasa kita lebih tinggi dari orang lain, terutama dalam bidang yang kita kuasai. Kebijaksanaan kita adalah merendahnya hati  dikala kesempatan untuk tinggi hati terbuka lebar. Kadang hidup ini adalah perihal menahan, menahan untuk tidak berbuat salah ditengah kesempatan untuk berbuat salah semakin lebar. Menahan untuk berlaku curang ketika kesempatan untuk berlaku curang ada. Menahan untuk pacaran padahal terbuka lebar untuk melakukannya. Simpelnya sabar dalam ujian.

Rasanya rasa syukur harus didekatkan lagi pada setiap kegiatan hari-hari kita, agar tidak ada nasi yang terbuang ketika kita makan, agar sederhana dalam hidup, agar keinginan keduniaan tertahan. Menjauhi berlebih-lebihan ketika zaman membawa kita ke arah hedonisme (hidup untuk mencari kesenangan).

Bolehkah, cita-cita berubah?

Bolehkah, cita-cita berubah?

Kita akan terus-terusan berusaha jika kita punya target. Untuk itu mempunyai tujuan sudah menjadi sebuah keharusan. Sejak kecil kita diajarkan oleh lingkungan untuk mempunyai cita-cita. Kadang ia adalah ke-abstrak-an untuk dicapai, tidak tahu darimana dan kapan harus dimulai. Angan-angan hidup dalam imajinasi.

Cita-cita dalam perjalannnya sering berubah, menyesuaikan dengan keadaan. Kita mengukur diri cita-cita mana yang mungkin buat kita capai dengan kondisi saat ini. Biasanya cita-cita terbesar kita selalu disimpan dalam hati rapat-rapat, pun kalau diceritakan biasanya hanya ke beberapa orang saja yang kita percaya.

Mestinya kita digerakan oleh cita-cita, bukan sebaliknya. Namun itu bukan perkara gampang seperti menulis artikel ini. Hal yang saya percaya adalah “tidak ada kata terlambat untuk sebuah cita-cita”. Melakukan usaha sebagai proses perwujudan cita-cita. Sampai kita berhenti menjadikan oksigen sebagai kebutuhan utama dalam hidup. Marilah kita sejenak memikirkan kembali cita-cita, jangan-jangan cita-cita kita hanya sebatas profesi. Atau hanya pelepasan nafsu belaka. Continue reading “Bolehkah, cita-cita berubah?”

Kesuksesan tidak pernah jauh dari ketaatan

Sejarah telah mencatat bahwa kuseksesan seseorang berada pada tingkat ketaatan yang tinggi bukan terletak pada kelalaian. Ketika Muhammad Alfatih menaklukan kontstatinopel pada usia 21 tahun kita bisa telaah amalan apa saja yang dilakukannya secara kontinyu. Kabarnya beliau semenjak aqil baligh tidak pernah meninggalkan sholat yang lima waktu dan sholat tahajud.

Bulan Ramadhan kemarin adalah bulan latihan untuk membiasakan kembali amalan-amalan wajib dan sunnah. Yang sunnah pahala sama dengan yag wajib, yang wajib dilipatgandakan pahalanya. Betapa istimewanya, pantas saja Abubakar sering menangis tatkala ingat bahwa bulan ramadhan akan ditinggalkannya.

Bulan ramadhan juga momentum untuk memperbaiki diri, kita menjadi melakukan introspeksi dalam ibadah-ibadah kita, masih kah karena Allah semata ibadah-ibadah kita? Atau justru terselip penyakit hati disana, Astagfirullahaladzim semoga dijauhkan dari penyakit hati. Di awal bulan ramadhan kita selalu mempunyai target untuk memperbaiki diri. Tidak heran semangat tersebut muncul ketika di awal-awal bulan Ramadhan, masjid menjadi ramai kembali meskipun konsisten merupakan tantangan yang luar biasa susahnya. Continue reading “Kesuksesan tidak pernah jauh dari ketaatan”

Kantong plastik bersih, ulah dipiceun

Jadi ceritanya bigini, ketika selasa kemarin saya pergi J***s Photo untuk membeli frame. Tidak seperti biasanya pelanggan tidak diberikan kantong plastik, kami ditawarkan tas daur ulang seharga Rp. 5000, ya jelas saya menolak membeli hehe. Saya membeli 4 buah frame, dan ketika selesai pembayaran si mbak kasirnya memberikan frame tersebut tanpa plastik, bener-bener tanpa plastik. Kebayang harus bawa 4 frame pake sepeda motor ke kosan.

Karena si mbak mungkin kasihan melihat saya, yang mencoba memasukan 4 frame ke dalam tas dan ternyata hanya muat satu. Kemudian si mbak kasir memberikan kantong plastik untuk tiga buah frame sisa nya.

Hari ini ketika saya sedang beres-beres kosan, merapikan buku, catatan keuangan proyekan, dan dokumen skripsi saya menemukan hal-hal yang sudah tidak digunakan di ruangan dan jumlahnya lumayan banyak. Yaitu kantong plastik, bekas dari J***s tadi, dari SMM D*, Indom*rt, bekas makan ayam penyet, plastik bekas makan nasi goreng, warteg dan sebagainya yang ternyata setelah sampai kosan sayang banget kalau harus dibuang, masih bersih dan bisa digunakan. Continue reading “Kantong plastik bersih, ulah dipiceun”

Politik yang terlalu nazis dan kita yang skeptis

Hari ini sedang browsing, dan membawa saya ke artikel perang rokok indonesia amerika di kompas, kemudian WTO dan mahasiswa UI yang di suruh kuliah di timur tengah oleh pimpinan ibukota karena upload video yang berisi larangan untuk memilihnya di tahun depan.

Saya jadi tertarik lagi dengan artikel-artikel gerakan mahasiswa yang sudah tidak menarik minat saya lagi satu tahun kebelakang. Tentang penting gak sih mahasiswa berpolitik? Ketika ternyata banyak kebijakan-kebijakan yang tidak sesuai dengan kepentingan rakyat kita biarkan saja. Rasanya tidak tenang dalam hati kalau diam saja, pun kalau berkicau sendirian di media sosial mengkritik habis-habisan suatu kebijakan, iya gitu kita sedang memperjuangkan? Namun cukup untuk melegakan hati untuk menepis bahwa kita mahasiswa diam saja. Continue reading “Politik yang terlalu nazis dan kita yang skeptis”